Di bawah langit gemerlap asmara, asap wedang meraih senjakala, Di antara sereh dan jahe yang luruh, terasa getar rindu menari di tubuh.
Wedang ini bukan sekadar minuman, tapi doa yang larut dalam kenangan, Seperti sukma yang dibakar cinta, namun abadi dalam raga yang setia.
Wahai Bhatara Kama, penguasa asmara, panahmu pernah singgah di dada, Hingga aku tahu, betapa indah menyiksa, rindu yang tak sempat jadi kata. Kita bukan dewa, bukan pula bintang, tapi dalam kenangan, kita jadi terang, Kau yang di kejauhan, aku dalam sepi, tapi hati ini tak pernah sendiri.
Bhatari Ratih, sang pujangga cinta, bisakah kau sampaikan rasa ini padanya? Bahwa tiap tegukan nikmat wedang malam, ada namanya, ada rindunya bersemayam
Aku ingin candu dalam kehangatan larut canda dan cakap di angkringan Memecah malam, di tikungan sunyi, wedangan jadi saksi: cinta tak pernah mati.
Artwork Size: 1080 px by 1920 px