FASE TELUR sore hari seorang gadis bermain di halaman. dijelajahinya dedaunan dari tanaman ibunya. terhenti tatapannya pada bintik kecil. tak jauh dari daun itu, hinggap kupu-kupu, meninggalkan sebutir bintik yang sama. gadis itu bernyanyi “telur-telur, ulat-ulat, kepompong, kupu-kupu, jadilah indah!”.
FASE ULAT hari berlalu sampai pada hari yang suram. gadis itu dilanda kelabu, semua terasa kalut. ditatap tanaman ibunya yang dipenuhi ulat. ulat yang menyebalkan dan mengerikan, membuat daun-daun itu berlubang.
FASE KEPOMPONG hari terus berjalan, gadis itu sedang berdiam. bercermin dan memperhatikan diri. ibunya menghampiri tanpa heran, seolah anaknya ya hanya gadis kecil. si ibu menyodorkan jeruk mandarin sembari berkata “ada kepompong di tanaman ibu”. gadis itu melihat keluar jendela, ia berharap kepompong itu bisa bertahan. siapa tahu, cobaan datang saat ia sedang berbenah, seperti burung-burung, hujan badai, dan tangan jahil yang gemas dengan si pompong.
FASE KUPU-KUPU hari silih berganti, terdengar suara tawa. oh gadis itu sedang berbahagia dengan ibunya. bukan hal besar, namun terlihat sangat hangat. tertawa bersama seperti bebas melepas beban. saat senyumnya terukir di wajah, saat itu pula kupu-kupu berterbangan didekatnya. “ada kupu-kupu, sepertinya Tuhan sedang senang. Ia kirimkan hewan kecil yang indah sebagai wujud kebahagiaan-Nya pada perbuatan seseorang, itukah kamu nak?”.
END kebahagian kecil terjalin. itulah hidup, seperti bermetamorfosis. peralihan bentuk, sikap, pendewasaan dan faktor lain yang ikut berperan di alam semesta ini. kita hadapi dari satu fase ke fase lain. dari titik awal yang tak tau apa-apa, merasa selalu benar, dan menolak keadaan. tiba saatnya menyadari dan menerima untuk menjadi versi yang lebih baik.