Erotika Paranoia.
/1/ Merangkak ke udara, mengambang, melayang-layang. Di atas ranjang itu kita menggeliat, bergesekan, telanjang, dan tenggelam. Pejam matamu dan deru sesak napasku bertukar. Tubuh kita terus bergerak dari sisi satu menuju sisi lainnya. Mencair dan berlendir, hingga darah menyelimuti kita berdua, di atas ranjang itu. Ruang menyempit ketika tubuh terus mengembang. Lalu meledak, menjadi kepingan, berantakan dan berceceran. Kita digerogoti malam yang menyulam kegelapan. Dilahap sunyi yang menikam kebisingan. Kita tergeletak tak berdaya. Menyadari bahwa kita telah menjadi salah satu dari mayat-mayat yang membusuk di ranjang pemakaman. Ditelan belatung dan cacing. Paras rupawan terbakar menyisakan debu-debu yang menempel di kaca dan cermin.
/2/ Ia lah sosok yang menghantuimu kala tengah malam datang untuk menyeretmu kembali bercermin. Ia lah yang bersemayam di kepalamu saat engkau menjahit teriakan dan ketakutan. Ia lah yang mengintip dan mengendap-endap di balik pepohonan dan ruang gelap. Ia lah, dirimu sendiri.