“Sesuatu yang berbahaya selalu memiliki tanda.”
Siang hari, langit sangat cerah tanpa noda. Cahaya matahari menembus, menerobos rimbun pinus yang menjulang menantang langit. Sang Notos, atau Dewa Angin Selatan, dengan sangat merdu menghembuskan nafasnya perlahan, sementara ranting-ranting pinus saling beradu di ketinggian. Sang Notos, hadir menyapa dengan membawa kesejukan akan berakhirnya musim panas serta awal musim gugur. Seseorang tengah berjalan memasuki hutan pinus. Seorang remaja yang kecantikannya memancarkan aura hingga kedalaman hutan. Remaja itu bernama Cornelia, wajahnya sebening embun, matanya bening bercahaya layaknya kristal, rambut pirang yang menghiasi pilipisnya menegaskan jiwa petualangnya.
Remaja itu sangat yakin memasuki hutan pinus sendirian. Matanya tajam bagai burung Rajawali mengincar mangsanya. Kini matanya jauh menelisik dibalik rimbunnya pinus, menerka di kedalaman. Sesekali matanya terpejam, kemudian menghirup nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara yang bersih dan segar. Kedua Telinganya disibakkan menangkap suara disekitarnya. Bagaimana angin menyentuh ranting pinus, dan ranting yang telah lapuk gugur. Burung – burung terbang dan berkicau dengan merdu. Semuanya tersaji bagai konser orkestra yang pernah dilihatnya disuatu Gedung mewah. Namun ini lebih indah, Cornelia begitu takjub dengan apa yang didengar¬ dan dirasakannya. Suara hatinya menangkap, Sang Ibu Bumi yang maha baik memberikan pertunjukan yang luar biasa. Lalu membuka matanya lebar-lebar dan melanjutkan perjalanannya. Apa tujuannya? Siapa yang tahu, remaja seusianya segalanya menjadi keingintahuannya.
Cornelia melangkahkan kakinya dengan mantap, menuju sebuah bukit yang keindahannya bagai surga. Namun, ditengah perjalanan kakinya tersandung akar pinus yang mencuat di atas Ibu Bumi. Cornelia jatuh tersungkur dan terdiam beberapa saat. Sebelum bangkit membersihkan badannya dari tanah, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. “Apa yang sedang kau lakukan disini anak muda?”
Cornelia mencari dari mana datangnya suara itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari ke segala arah di mana suara itu muncul.
“Di sini, wahai anak muda,” sahutnya.
Cornelia terus mencari, suaranya tenang penuh kewibawaan, seperti seseorang ayah yang penuh kebijaksanaan sedang menuturkan petuah kepada anak-anaknya. Kemudian kembali lagi suara itu muncul, “tidakkah kau melihatku?”
“Apakah kau yang berbicara, Tuan?” tanya Cornelia.
Remaja itu, kini duduk melipat kakinya, pandangnya mengarah pada sudut akar pinus. Pikirannya disibukkan dengan pertanyaan makhluk kecil apakah ini. Entah makhluk macam apa, bukan sejenis hewan maupun tumbuhan. Tentu saja, di kepalanya sibuk menganalisa. Secara biologi, makhluk hidup selain manusia dibagi ke dalam lima kelompok besar yang disebut kingdom. Yang berada di depannya ini, termasuk dalam kingdom fungi, karena bentuknya yang khas. Tuan ini, memiliki warna cokelat-jingga di bagian topi dan cokelat di bagian batang atau tubuhnya. Bentuk topinya seperti payung, itulah yang membuatnya menjadi lebih misterius dan enggan menampakan wajahnya.
“Ya,” dia berkata. “apa yang sedang kau lakukan disini, anak muda?”
“Tidak, maksud ku, aku hanya ingin mengunjungi bukit yang ada di atas sana,” kata Cornelia. “Siapakah namamu Tuan?”
“Panggil aku Webcap,” jawabnya.
Adalah benar, makhluk dihadapan Cornelia adalah jamur, Ibu Bumi melahirkannya dan membuatnya dapat bicara. Webcap tumbuh dengan memakan makhluk hidup yang telah mati lalu menguraikannya dan memakan sari-sarinya, seperti itulah caranya makan. Cornelia terkagum-kagum apa yang telah ditemuinya. Remaja itu sama sekali tak ada rasa takut sedikit pun, justru ini baru yang dinamakan petualangan. Cornelia tersenyum manis, wajahnya semakin berbinar karena senyumannya, lalu berkata, “kau menakjubkan sekali Tuan Webcap.”
Webcap berdehem, “akan berbahaya bagimu memasuki hutan sendirian.”
“Aku tidak takut apapun, justru aku sangat bahagia bertemu denganmu,” jawab Cornelia.
“Anak muda,” katanya sambil menghela nafas. “Aku bangga dengan keberanianmu, kau kemari tanpa seorang pun menemanimu. Jiwamu yang masih muda pasti haus rasa ingin tahu, karena itulah yang membuatmu kemari. Namun ketahuilah, mungkin di atas sana kau akan menemukan makhluk-makhluk yang asing bagimu dan bukan tidak mungkin mereka akan menyakitimu.”
“Mereka tak akan menyakitiku, karena aku tak menyakiti mereka,” sela Cornelia.
“Ya,” jawab Webcap. “Namun kau harus berhati-hati, dengan pikiran mu juga lakumu. Karena sekali saja abai dalam langkahmu, sangat mungkin kau jatuh tersungkur seperti yang kau alami baru saja.” Webcap berhedem lalu melanjutkan, “aku bangga dengan keberanian mu, karena itu aku memperingatkan mu, demi kebaikan mu.”
“Kenapa?” tanya Cornelia.
Webcap Kembali berdehem, “sangat miris melihat mereka yang lalai terhadap tanda. Ibu Bumi telah memperingatkan anak-anaknya dengan tanda, namun diantara mereka tidak mengasah kepekaannya sehingga banyak yang terjerumus ke dalam bahaya.”
Asina